Dalamdunia sastra, W.S Rendra sangat berjasa dalam pengembangan sastra. Karya-karyanya tidak hanya dikenal di dalam negeri saja, melainkan juga di luar negeri. Salah satu contoh karya sastranya yang cukup terkenal adalah Puisi Sajak Sebatang Lisong. Dikutip dari buku Kumpulan Esai Apresiasi Puisi (2018) karya Indra Intisa, berikut isi puisi WillibrordusSurendra Broto Rendra (lahir Solo, 7 November 1935) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Semenjak masa kuliah beliau sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah. Dalampikiran-pikiran waktu gerilya Di waktu kebebasan adalah impian keabadian Dan belum berpikir oleh kita masalah kebendaan Kumpulan Puisi Karya WS.Rendra. Kumpulan Puisi Karya WS.Rendra (Bagian 3) Kumpulan Puisi Karya WS.Rendra (Bagian 2) Kumpulan Puisi Karya WS.Rendra (Bagian 1) Monggo Di isi Buku Tamu'ne. Daftar Isi. Dapatdituangkan dalam bentuk cerita maupun puisi. Salah satu penyair atau penulis puisi terkenal di Indonesia adalah W.S Rendra. Puisi-puisinya terus melegenda di Indonesia. Willibrordus Surendra Broto Rendra lahir pada 7 November 1935 di Solo. Salah satu puisi yang terkenal dari W.S Rendra adalah Telah Satu. Berikut puisinya: Telah Satu KumpulanPuisi WS. Rendra - W.S Rendra bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto Rendra, beliau lahir di Solo tanggal 7 November 1935. Beliau adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok. Berikutpuisi Sajak-sajak Cinta W.S. Rendra: Setiap ruang yang tertutup akan retak. karena mengandung waktu yang selalu mengimbangi. Dan akhirnya akan meledak. bila tenaga waktu terus terhadang. . Puisi Sajak Siang Hari Karya Rendra Sajak Siang HariWaktu terapung dalam kolamseperti katak di bawah di antara kiambangnasib buruk mengintip tangannya yang dendammengulur ke arah berdiri dan yang pingsanterjatuh di kolamdisiksa di dasar kolam itunasib buruk yang malasberbaringanmerendam senantiasamatanya yang bernafsumelirik melotot dan nasib buruk yang tebalkutarik dengan tangankudan kepalanya yang kelabukubanting di atas Basis Oktober, 1961Puisi Sajak Siang HariKarya Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935 di Surakarta Solo, Jawa Rendra meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2009 pada usia 73 tahun di Depok, Jawa Barat. Friday, February 06, 2015 Puisi tentang waktu akan berjalan. Pengertian waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses suatu perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. seperti kata waktu cepat berlalu atau waktu singkat waktu pendek dan lain sebagainya Kata waktu merupakan sebuah homonim sebab arti-artinya mempunyai ejaan serta pelafalan yg sama namun maknanya berbeda. kata waktu mempunyai arti dalam kelas nomina atau kata benda sebagai akibatnya waktu bisa menyatakan nama dari seorang, tempat, atau seluruh benda serta segala yg dibendakan dan partikel yaitu kata yang tidak tertakluk pada perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yg diiringinya. Berkiatan tentang waktu, dibawah ini, beberapa puisi tentang satu penggalan baitnya. "Berjalan, menuju kedepan menghadapi banyak pilihan pilihan yang akan terpapar untuk harapan hidup yang besar, Mengganti dengan hangatnya musim bernuansa cerah". Selangkapnya dari bait ini disimak saja puisi tentang waktu berikut iniPUISI WAKTUMasih gerimis.. Selepas terpaan angin merobek langit sore ini Dingin s'makin berkuasa menjemput malam Menyelinap pilu di antara tulang tulang.. Ku hayat memori ini.. Mungkin risau memetik detik yang melaju. Ku urai giat berjuta kiat Detik tak henti melemahkan kuat .. Ahh,. Mungkin harus ku biarkan saja Detik mengganti setiap langkah Mengganti dengan hangatnya musim bernuansa cerah.. ROBB ku telah menyusun drama lelaku kehidupan Sebelum tiba ajal yang diceritakan.. Irawan_Tgpandan_Feb2015 Puisi Waktubila hati tlah membeku hidup tinggal mebunggu menunggu waktu waktu. yg akan berlalu. waktu waktu akan berjalan berjalan, menuju kedepan menghadapi banyak pilihan pilihan yang akan terpapar untuk harapan hidup yg besar waktu waktu akan berhenti jika kamu berdiam diri merenunggi kesedihan sendiri yang tidak akan ter0bati selama kamu menyesali diri!Puisi WaktuAndai kau kembali, Akan ku perbaiki kelamku, Yang selalu hadir di mimpi burukku. Andai kau kembali, Aku rela mengorbankan ragaku, Agar tak sia sia seperti ini. Andai kau kembali, Aku akan berusaha yang terbaik. Takan ku sia2kan engkau walau sedetik. Namun semua org tau, Kau tkan pernah kembali. Hanya menyisakan luka dan darah Di hidupku kini. Tasikmalaya, -Jams Amai- Demikianlah puisi tentang waktu baca juga puisi puisi yang lain yang ada di blog ini, semoga puisi waktu diatas dapat menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung. Hai teman, Balik lagi nih bareng IMYID, gak disangka - sangka ternyata beberapa postingan mengenai puisi dan prosa banyak di cari oleh kalian semua. Jadi dikesempatan pada januari 2020 yang berbahagia ini, IMYID kembali dengan beberapa postingan dengan tema bahasa Indonesia setelah hampir 2 tahun IMYID tidak update, sekarang akhirnya comeback. hehe IMYID kali ini akan share banyak sekali judul puisi dengan tema "Menyulam waktu" penasaran ? Ini dia beberapa contoh puisi tersebut 18 Contoh Puisi dengan Tema atau Topik Waktu, Menyulam waktu Menyulam waktu Perempuan itu nyatanya terlalu menginginkan hujan Ingin mendekap, dalam-dalam Sayangnya, hujan enggan cepat didekap Ia harus menghitung putaran detik di jam dinding kamarnya Berminggu-minggu, berbulan-bulan Sampai bayi merah kini telah merupa mawar merekah "Jangan hanya menunggu, lakukan sesuatu" ucap rintik di satu waktu Maka bila suatu saat nanti hujan tak mau lagi Mengalirkan harap pada dekap Setidaknya dada puan itu telah kuyup oleh gerimis Namun Mata air yang katamu benar bening, nyatanya telah kering oleh sajak yang dituturnya tiap-tiap malam Perempuan itu, telah beku. Sebelum Pulang Sebelum kau benar-benar pergi meninggalkan sepetak kesunyian di tempatku terbaring. Kumohon tinggallah sejenak, meski setengah hari untuk menyulam waktu Agar menjadi sepotong riwayat yang sempurna kita lahirkan, Mengalir indah dalam beberapa jarum waktu dan gerimis yang sangat tajam Memuaikan beberapa nama ke angkasa. Sebelum kau benar-benar pergi meninggalkan aku. Kumohon engkau mengerti perjalanan rinduku Yang terburu oleh waktu. Hanya bayang imajinasi yang bergelayut dalam pikiranku, merajut mimpi yang tersisa Kala dirimu selangkah lebih jauh dariku. Di ranjang ini, aku terbaring dan berdoa Agar kau mau untuk merangkum cerita Di tiap kergesaan menyulam waktu bersamaku. MERAWAT RINDU Masih yang tulus ku rasa sedetik pikiran tanpa tak meluka dengan sebingkai noda paling indah merona "La-la-la-la" denting relungku menjajaki hamparan jiwa Sebuah senyum di ujung waktu penuh rana Mungkin yang setia ku bawa memantik rindu tak bertepi dengan raga merajut waktu kalbu dengan nyawa Apalah sebuah nada "sya-da-du-du-da-da" hayalku tak pernah luput tanpa dia Serbuk detik ku tumpuk Misiu menit ku genggam Debu jam ku jadikan tumpu Tak peduli tampungan tahun yang ku tahu hanya menyulam waktu Hayal bukan berarti ku tak berakal Mati bukan berarti ku tak mampu menari Gila bukan berarti ku tak berdaya Ini hanya ku tak suka bahagia tanpa dia yang selalu di dada, selamanya. Putaran Ambisi Degup jantung menghempas ke seluruh tubuh Memanaskan tujuan tiap kalo tak sejalan Luapkan ambisi seisi tubuh Yang menggoncang ruang putaran Derai langkah terus berjalan Dibelakang waktu Melampaui tiap-tiap keinginan yang mulai memuncak Hingga melupakan sibuknya menuju jalan yang abadi Tanpa pikiran yang tenang Maka hari ini Akan ku sumpah Waktu lah yang selalu menungguku Menantimu Denting demi denting waktu terlalu cepat bergerak. Tetes demi tetes embun terlalu cepat mengering. Sirat demi sirat sinar terlalu cepat tersebar. Namun mataku.. Terbujur kaku menatap satu titik semu pada sebidang pintu itu. Tempat dimana bayang sosoknya tiba. Tempatku berjumpa dengan kehangatan. Butiran debu berbisik mengajakku pergi. Namun kursi tua ini terlalu nyaman untuk ku beranjak. Aku terjebak pada waktu yang enggan menjawab kapan sosok itu tiba. Besitan demi besitan bayangnya temani jenuhku. Buatku semakin enggan tuk bergerak. Ku perangi arus kesunyian. Ku arungi arus kejenuhan. Ku sulam waktu demi waktu. Untuk menghangatkanmu dengan rajutan kasih. Takdirku Sejak menatap dunia, aku bernafas dalam penjara Penjara yang membuatku sekilas nampak remaja Namun bahkan terhadap asa aku hanya menyapa Lalu kau tanpa sengaja melintasi senja Dimana aku sempat mencoba Terbangun dari semua ilusi belaka Yang sering ku anggap nyata Selaksa gemintang menjadi saksi Penantian dalam yang ku simpan di hati Tentang sebuah rasa yang sepi Karena sebuah nama yang tanpa sengaja hinggapi Penjaraku tak lagi senyap Sebab pikirku kini tlah lenyap Ikuti langkah kecilmu yang berderap Hingga Waktu Menyulam Dirinya Tertahun aku tertahan tak berlari ingin berjalan saja tak berani melupa pada terbersitnya pelangi sesudah hujan menyarukan senyummu lekas-lekas ke peraduan Aku rindu, bertemu pada tatap sayu candamu menyunggingkan lekukan mata mengedipkan tanya menggoreskan suka pada harap yang kian melonjak mengikiskan duka pada waktu hingga terasa mati Sekelumit angin menerpa datang tiada kuat tubuh menahan kering yang gersang dahaga, lelah dan lapar menyemukan bayangan sukma, raga, terlukis tertimpah rembulan Aku menunggu, menggengam tanganmu yang bukan ternyata adanya sembilu menyayat sulur-sulur darah dan nadi mengkhayal dipelukmu setinggi istana para peri menggapainya saja butuh triliyunan anak tangga Gelagar terbentang mengokohkan pelatar membangun pondasi meninggikan atap menanti hati menjadi serupa dan sediri biar melumut rambut di badan Aku menengadahkan hati, memilih kasih menyayat kalbu membiarkan pesona menipuku, menanti kau yang telah dimiliki lagi-lagi ... lepas-lepas ... didahului seberkas mentari Aku sungguh ... Matahari yang tak sudi ada mentari yang lain Namun, Diriku hanya merupa setitik air dari samudera pembelenggumu Salahku, tak menemuimu ketika pagi ... Dosaku, menjumpamu sesingkat pagi ... Kebodohanku tak menyadari hingga waktu menyulam dirinya dengan benang tak terbatas engkaulah itu Waktu Rasanya kuingin menyulam waktu. Menatap kembali ke masa lalu. Bercumbu dengan kenangan. Di saat aku ingin memilikimu sepenuhnya. Tanpa memedulikan sesiapapun. Yang terpenting adalah kamu dan aku bersama. Merajut waktu di kala rindu mencuat. Kuingin tetap tinggal di waktu lalu ini. Karena dengan bebas, aku bisa menatapmu di balik gorden ini. Menantimu berjalan menyusuri rumahku. Tertawa indah yang mampu membiusku ke dalam kehangatan. Ah, waktu. Izinkan aku kembali, hanya sekadar mengucap rasa yang tertahan ini. Izinkan aku berjuang memilikinya. Izinkan aku selalu melihat senyum indahnya. Biarkan aku menyulam waktu demi dia. Kurela berkorban demi dia. Ingin kubisikkan kata terindah padanya, bahwa aku mencintainya amat sangat. Penantian Tanpa Ujung Aku masih di sini Menantimu untuk kembali Ulangi kisah yang pernah tertulis Dengan tinta merah pena cintamu Kini setelah kau pergi Hidupku hampa tanpa dirimu Berselimut angin kesunyian Mendekap rindu dalam sendu Awan mendung hiasi wajah Datangkan hujan air mata Luapkan banjir penuh duka Di dalam badai kerinduan Hari-hariku sepi tanpamu Malamku sunyi tanpa dirimu Hatiku panas tidak terkira Dibakar api gejolak rindu Kini diriku telah terjebak Dalam penantian tanpa ujung Berharap dirimu kembali lagi Kau... yang kini telah tiada Selisik Separuh detik Angin datang pada musim klasik Ada Diaroma Seratap duka dalam kurun tanpa masa Pagi itu Angin klasik menerobos dinding Sedang, jarum kecil masih memeluk detik-detik panjang Sepotong kain bernama waktu teronggok Belum selesai sang penyulam bekerja, namun ia sudah merongok Kain itu punyaku Selisik Detik klasik Bisakah aku meminta kau melanjutkan langkah yang belum berirama? Atau, bisakah aku meminta hal sederhana ; Jadilah penyulam waktuku dengan detik-detik panjangmu. Suatu tempat, suatu waktu Aku; Wanita Separuh Baya Adalah aku, wanita separuh baya yang lugu gaya Hilang pesona digerus masa Terbelenggu sepi Terkungkung oleh histori janji Setiap hari hanya menghitung mimpi-mimpi Aku; wanita paruh baya Tinggal separuh nyawa menata eloknya dunia Tak ternyana selama ini dipenjara duka Pada bayang-bayang fatamorgana merajut setia di langit senja Barat Daya Malam-malam semakin mendiam, lalu berlalu Tetapi aku, masih saja menyulam waktu Tak bisa mengubur masa lalu dalam pekatnya kisah-kisah tabu Aha Aha! Aha! Aha! Hari masih sore Tanah masih basah Angin masih mengalir Pernak-pernik yang semula tercecer, kini menyatu dalam rangkaian Benang yang semula tebal, kini tinggal beberapa helai Bohlam yang semula benderang, hanya temaram yang ia sisakan Cinta, Aku di sini Siap menyambutmu dengan segala upaya Menyuguhkan senyum terhangat yang mungkin hanya kau dapati dariku Cinta, Kau masih ingat? Bagaimana cantiknya diriku Saat terakhir kali kau menatapku Sekarang aku lebih cantik, dari bidadari yang mungkin saat ini menemanimu Aku tidak memakai gamis hitam seperti dulu Aku tidak serapuh dulu Ketika kau meninggalkan sebuah ucap 'Sabar' Dan pergi dari gubuk terindah kita Membiarkanku menyulam sendirian Aku baru tersadar, Cinta, itu dulu Aku baru sadar bahwa sore tak pernah lagi ada Tanah sudah mengering Angin sudah berdebu Dan kau tetap tak pulang Membiarkanku dipeluk tangis Yang menghujam sepanjang malam Aku Penyulam Waktu Sunyi memaku larik-larik rindu Dalam dekap erat waktu Kutatap sulaman itu Yang kujalin perlahan dengan benang air mata Bertaburan manik kisah episode lalu Berhamburan helai tanya dukaku "Akankah kisah ini cepat berlalu?" tanyaku pada angin Mozaik kecil serpihan hati melayang pada kibaran angin berembus Masih kusulam bait puisi pasi untukmu Aku penyulam waktu Mengurai kusai detik yang lama merindu Kutunggu setengah kolase hatiku Yang tertinggal entah Dalam album waktumu Lilin Putih Temanku Lilin itu kini menyala Di sini, di bawah pohon ini Menemaniku menunggu puan kembali Lilin itu masih menyala Perlahan meleleh ke bawah Masih terasa sedikit kehangatannya Lilin itu menghiburku Menari bersama angin senja Kadang dinginnya memukul tulangku Lilin itu hampir mati Namun puan belum juga datang Apakah lupa janji tadi pagi? Lilin itu harus tetap menyala Untuk menerangi langkah kakimu Itupun jika kau ingat janjimu Lilin itu benar mati Menutup akhir puisi ini Tanpa bertemu puan sama sekali Lilin benar-benar hilang Sekarang tanpa ada kehangatan Daku meringkuk kedinginan dalam gelap malam Gulma Tak Bernyawa Dia menjelma kerdil Terasing dalam kesepian panjang Dingin, menggigil.. Mendekap angan di tepian petang Dia mengerti, Kepergian, ialah bait terakhir pada puisi Pun tentang waktu tak' pernah berkeluh Membawa kenangan yang tak jua utuh Dia Ialah dirinya, Dalam kisah gulma terluka Menghitung tiap terbit dan terbenam Menunggu takdir menghunus nyawa hingga ke akar Aku Dan Kue Ulang Tahun Hari ini aku merobek kalender baru Belum terlewat Namun mestinya sudah tamat Ini bukan hari yang kutunggu Ketika bayang wajah muncul satu-satu Pecah tangis bayi yang membuncah Dan pijak telapak yang kubimbing mengejarku Hanya sekian tahun kenangan manis senyuman Anak-anak yang menggenggam jemari Hingga ke buaian.... Kini aku memang bangga pada mereka Kedua kaki mereka telah cukup kuat berlari Lebih jauh lagi Lebih tangguh lagi Bahkan jarang datang kembali Kini aku harus tetap bangga Ketika mereka tak punya sisa waktu Sibuk mengejar impian dunia Lupa hari ulang tahun ibunya Esok hari ketika tanggal itu lewat Sekotak kue tart datang "Selamat ulang tahun Bunda" Ujar kartu ucapan Tanpa senyuman Tanpa pelukan Tanpa kerinduan Dan aku harus tetap bahagia Meniup lilin sendirian Atau kubiarkan angin malam yang meniupnya Juga pada sisa air mata Dan keluhan yang sia-sia Sembari melanjutkan sulaman Sebagai kain penghias nisan Siapa tahu mereka lupa Pada tanggal lahir ibunya Kala Rotasi Tak Berbalik Arah Demi masa Ayat Tuhan tlah ingatkan Akankah manusia hargai Perjalanan waktu Rotasi takkan bisa berbalik arah Perbaiki perbuatan yang terlanjur salah Hanya maaf terlontar Saat tersadar Intan berlian takkan bisa beli Berapapun nilainya Tak sekalipun tergantikan Takkan berulang Kala insan meremehkan Abaikan janji Ia tlah kehilangan kepercayaan Tinggalkan bekas lubang Yang tak bisa tertambal Hanya penyesalan datang Di hari kemudian Waktu bukanlah karet Yang bisa diolor Atau dianggap mirip celana kolor Dibuat longgar Agar bisa menghindar Dengan berbagai dalih Alibi ... modus … atau akal bulus Waktu tak bisa disulam Tutupi malu dan sesal Meski sekecil lubang jarum Waktu… Sedetikpun sangat berharga Doa Senjaku Tibalah kita di ambang senja Di rambutmu lembayung saga Menjelma cendera pawana Gemuruh jiwa berkidung merdu Nyanyikan rindu laksana melagu Dalam goresan bait puisi sendu Oh, indahnya senyummu di mataku Kusulam waktu dengan namamu Takkan hilang seumur usiaku Dalam diamku yang bertafakur Berucap doa memanjatkan syukur Untuk cinta yang tak terukur Seduhan Waktu Langit tak segelap. Sekat-sekat jendela, Yang menggigil bersama jemariku. Menjerat yang begitu kukuhnya. Telah tiba waktu pilihan. Berstruktur abstraksi. Di atas setumpuk jarum, Sebagian patah, kuku-kuku. Tak ingat sudah berapa lama, Masa itu berlalu. Kau lambungkan tanganmu, Membantu menadah keringat. Menyulam waktu bersamaku. Aku hanya ada dalam kegelapan hitam dan menggigil. Sertaan kertas putih ini. Coretan terakhir teruntuk diriku. Kau seduh dalam mimpi yang tak terbayang. Helaian ini, Tak akan sempurna. Tapi kau benar-benar sudah tiada. Dalam seduhan waktu, Yang kita sulam bersama dulu. Puisi Gugur Karya Rendra Gugur Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya. Tiada kuasa lagi menegak. Telah ia lepaskan dengan gemilang pelor terakhir dari bedilnya ke dada musuh yang merebut kotanya. Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya. Ia sudah tua luka-luka di badannya. Bagai harimau tua susah payah maut menjeratnya. Matanya bagai saga menatap musuh pergi dari kotanya. Sesudah pertempuran yang gemilang itu lima pemuda mengangkatnya di antara anaknya. Ia menolak dan tetap merangkak menuju kota kesayangannya. Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya. Belum lagi selusin tindak maut pun menghadangnya. Ketika anaknya memegang tangannya ia berkata "Yang berasal dari tanah kembali rebah pada tanah. Dan aku pun berasal dari tanah; tanah Ambarawa yang kucinta. Kita bukanlah anak jadah kerna kita punya bumi kecintaan. Bumi yang menyusui kita dengan mata airnya. Bumi kita adalah tempat pautan yang sah. Bumi kita adalah kehormatan. Bumi kita adalah jiwa dari jiwa. Ia adalah bumi nenek moyang. Ia adalah bumi waris yang sekarang. Ia adalah bumi waris yang akan datang." Hari pun berangkat malam Bumi berpeluh dan terbakar Kerna api menyala di kota Ambarawa. Orang itu kembali berkata "Lihatlah, hari telah fajar! Wahai bumi yang indah kita akan berpelukan buat selama-lamanya! Nanti sekali waktu seorang cucuku akan menancapkan bajak di bumi tempatku berkubur kemudian akan ditanamnya benih dan tumbuh dengan subur Maka ia pun akan berkata - Alangkah gemburnya tanah di sini." Hari pun lengkap malam ketika ia menutup Potret Pembangunan dalam Puisi 1993Puisi GugurKarya Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935 di Surakarta Solo, Jawa Rendra meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2009 pada usia 73 tahun di Depok, Jawa Barat. Puisi Hai, Kamu! Karya Rendra Hai, Kamu! Luka-luka di dalam lembaga, untaian keangkuhan kekerdilan jiwa, noda di dalam pergaulan antar manusia duduk di dalam kemacetan angan-angan. Aku berontak dengan memandang cakrawala. Jari-jari waktu menggamitku. Aku menyimak kepada arus kali. Lagu margasatwa agak mereda. Indahnya ketenangan turun ke hatiku. Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku. Jakarta, 29 Februari 1978Sumber Potret Pembangunan dalam Puisi 1993Puisi Hai, Kamu!Karya Rendra lahir pada tanggal 7 November 1935 di Surakarta Solo, Jawa Rendra meninggal dunia pada tanggal 6 Agustus 2009 pada usia 73 tahun di Depok, Jawa Barat.

puisi waktu karya ws rendra